sepotong catatan kerja
17 Apr
Cerpen : Andra S Kelana
PEREMPUAN itu beristirahat sebentar di bawah bunga kertas yang tumbuh mekar. Dihapusnya butiran keringat yang mengerintil di pelipis mata dan keningnya. Dan ia tertunduj, menatap ke tanah, yang retak-retak, karena panas bumi. (more…)
17 Apr
Cerpen : Andra S Kelana
ENTAH mengapa, aku begitu benci dengan makanan otak-otak. Jangankan untuk mencicipi, mencium aromanya, melihat bentuknya yang dibungkus dengan daun berwarna hijau, tergolek di atas tungku saja sudah muak. (more…)
17 Apr
Cerpen : Andra S Kelana
Laki-laki itu terbangun,. Ketika ayam jantan berkokok marah. Cuaca di luar sangat dingin. Dia berjalan di dekat telingga-telingga adiknya. Bunyi lantai berderak-derak. Namun, tidak membangunkan keempat adiknya yang tidur pulas, oleh dingin subuh yang menyayat tubuh.
Embun pagi masih menetes. Dia telah menerjang ke dalam pelukan dingin pagi. Meniti arus globalisasi kehidupan dunia. Satu prinsip yang selalu di pegang laki-laki itu. Bangun pagi, apabila burung-burung belum terbangun, nanti kalau terlambat, maka kita akan menikmati rezki sisanya burung. (more…)
17 Apr
Cerpen : Andra S Kelana
BELUM satu hari dipekerjakan sebagai pembantu, Euis (18), sudah pergi dari “tuannya”, Bertha, yang tinggal di jalan Sudirman. Padahal Bertha tidak mudah mendapatkan Euis yang dibawanya jauh-jauh dari Kota Kembang Bandung. Niat Bertha mengambil Euis dari salah satu yayasan, untuk membantu adiknya yang baru saja melahirkan sebagai baby sister. (more…)
17 Apr
Cerpen : Andra S Kelana
LULUK, Niken dan Ida Farida tertawa terbahak-bahak sambilcemal-cemil, mengisi hari-hari kosong mereka. Jemari tangannya terus menari di keypad handphone, mengirim SMS, sekali-kali mereka berbicara serius, lalu tertawa lagi. Gigi-gigi putih mereka terlihat mengkilat, dibawah lindungan bibir merah mekar. (more…)
Recent Comments