sepotong catatan kerja
2 May
BULANG Cahaya, sebuah novel trilogi karya besar Rida K Liamsi ini, kabarnya akan diangkat menjadi film layar lebar. Novel yang ditulis dengan setting daerah Kepulauan Riau sampai ke pantai timur semenanjung Malaysia, dengan latar belakang sejarah Kerajaan Melayu Riau Lingga, sudah dilirik oleh berbagai produser film di Indonesia. Dan, untuk pembuatan film ini, dikabarkan akan mengeluarkan biaya produksi yang sangat besar Rp10 miliar rupiah.
Karena apa, film yang diangkat dari novel dengan alur cerita sejarah, klosal akan menghabiskan biaya besar untuk property maupun setting tempat. Apalati alur cerita novel ini Kepulauan Riau, Daik Lingga hingga ke semenanjung Melaka, dengan berbagai angle peperangan, tentunya akan mengeluarkan biaya besar, artis-artis pendukung yang begitu banyak, seperti dalam film Lord of The Rings
Sebagai bahan perbandingan saja ; untuk pembuatan film sejarah yaitu Film Putri Gunung Ledang, besutan Saw Teong Hin ini mengeluarkan biaya produksi yang begitu besar yaitu 4 juta dollar AS, dan merupakan tertinggi dalam sejarah pembuatan film di Malaysia.
Lantas bagaimana dengan sang penulis novel Bulang Cahaya Rida K Liamsi, ketika mendapat tawaran kalau novelnya akan dijadikan film layar lebar; Dia hanya tersenyum, yang memberi isyarat siapa saja boleh membuat film tersebut, karena novel merupakan sejarah dan nantinya dapat dijadikan bahan pembelajaran sejarah bagi generasi-generasi mendatang.
Semisalnya Malaysia, yang sukses mengangkat cerita Putri Gunung Ledang yang semua rakyat Malaysia tahu tentang cerita tersebut. Kenapa kita tidak bisa berhasil dan sukses membuat film sebagus Putri Gunung Ledang, milsanya film Raja Ali Haji, Bulang Cahaya ataupun cerita-cerita sejarah maupun klosal lainnya.
Apalagi sekarang ini kita lagi demam untuk menonton film layar lebar yang selama ini ‘’mati suri’’ karena tidak memiliki kualitas cerita yang begitu bagus, dan kurangnya promosi. Kegairahan kembali perfilman Indonesia, tidak terlepas dari sebuah kesuksesan novel yang diangkap dalam sebuah cerita film. Sebut saja, novel Ayat-Ayat Cinta, karya Habiburrahman El Shirazy yang sudah dijadikan film oleh Hanung Bramantyo, bisa meraih jutaan penonton, dari berbagai kalangan kelas, hingga kepala daerah, dan kepala negara.
Dan sebentar lagi, kita akan menikmati kembali film besutan Riri Riza yang juga mengangkat cerita dari novel Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata yang sudah mencapai angka penjualan 600 ribu eksamplar.
Nah, kita memiliki novel Bulang Cahaya yang tidak content ceritanya adalah peperangan di laut maupun di darat untuk mempertahankan negeri ini, tetapi dalam novel ini juga mengangkat bagaimana cinta seorang Raja Djafaar dengan Tengku Buntat anak seorang bangsawan.
Sedikit saya mengutip apa yang diungkapan Maman S Mahayana, seorang sastarawan Indonesia yang sangat dikenal dengan kritikan dan telaah sastranya; Kekuasaan yang berusaha memenggal kisah cinta dua sejoli itu, ternyata tidak mampu membunuh asmara mereka, meskipun secara fisik mereka gagal memasuki ikatan perkawinan. Agaknya berbeda dengankisah kasih tak sampai yang berakhir secara tragis, bahkan kematian.
Percintaan Raja Djaafar dan Tengku Buntat dalam novel Bulang Cahaya, tidak berakhir dengan kematian, melainkan berakhir pada peristiwa yang jauh lebih dahsyat; terbelahnya kerajaan Melayu.
Novel ini sangatlah mengasyikan untuk diangkat menjadi layar lebar, dan bahkan mungkin bisa menandingi film Putri Gunung Ledang. Karena, sekali lagi yang mengutip ungkapan Maman S Mahayana, bahwa Bulang Cahaya merupakan novel politik bermarwah, dan novel percintaan yang mencerdaskan. Bukan novel percintaan pop, cengeng! Kita tunggu saja, siapa sutradara yang berani menginvestasikan miliaran rupiah untuk mengangkat cerita fakta dan sejarah!. [andra s kelana]***
9 Responses for "Film Bulang Cahaya"
ia nech, kapan novel bos kita ini dijadikan film…
kita memang mengharapkan film-film bermutu yang dapat dijadikan bahan pembelajaran
sbg salah satu penggemar bulang cahaya, sangat menunggu kehadiran difilmkan
film bulang cahaya, mesti menanyamai film Putri Gunung Ledang dari Malaysia.
harus. novel ini harus dijadikan sebuah film yang dapat dijadikan bahan belajar dan pengetahuan kita. bukan film horor saja
kagum. Saya udah baca novelnya bagus kok untuk dijadikan film
wah…wah…kalau bulang cahaya jd difilmkan, satu kemajuan besar untuk perfilman indonesia.secara produksi film indonesia jarang banget ceritanya kayak cerita di novel bulang cahaya.perfilman indonesia bakal lebih berwana lagi!
tapi bang andra, bleh nanya dikit nggak?
emang novel bulang cahaya tuh novel trilogi yah?
tau dari pekanbaru! riau blog bg…
kbetulan dia temen ane.
kemaren liat blognya dia, ada link ke site bang andra.
wis, mantep tuh tapi apa kabar terbarunya..
Leave a reply