KALAULAH anda mendengar kata calon, tentu terbayangkan oleh anda adalah pejabat. Nah, begitu juga saya, ketika ditawari menjadi calon, yang dibayangkan oleh saya adalah yang enak-enak saja, yang tidak enak ogah saya membayangkan.
Kalau saya jadi pejabat, tentu naik mobil mewah, pakai supir dan seorang ajudan (istilah dipemerintahan adalah ADC). Kalau mau keluar mobil udah dibukakan pintunya. Kalau pergi ke tempat acara, sudah banyak orang menyambut, menyalami, mengalungkan bunga.
Sayapun melirik ke kiri dan ke kanan, sambil menyalami satu persatu. Nah, kalau ada cewek cakep, tentu saya sambangi dan bertanya, apa masih kuliah atau sekolah. Kalau dijawab masih kuliah, jurus yang saya keluarkan adalah; cepat-cepat selesaikan kuliahnya, tambahkan skil, kuasa beberapa bahasa internasional dan bahasa perdagangan. Dan, kalau ada waktu silakan bawa teman-teman wanita kamu untuk melakukan audiensi. Begitulah saya membayangkan, jika saya menjadi seorang pejabat.
Tapi sebenarnya, menjadi pejabat itu banyak tidak enaknya, menguras banyak pemikiran, kerja siang malam, terbang ke sana ke mari. Berhadapan dengan para anggota dewan, dan yang ditakuti sekarang ini adalah berhadapan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), serta takut berhadap dengan sang khaliq, karena bakalan banyak pekerjaan saya yang menyimpang dari amanah.
Inilah syndrome yang terus menghantui diri saya, ketika beberapa teman alumni sekolah menawarkan saya untuk bertarung di pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung. Kemudian, nyali saya sedikit menciut, karena saya tidak memiliki modal yang begitu kuat, terutama model financial –uang yang harus dikeluarkan miliaran rupiah, terutama untuk biaya kampanye, beli baju, buat spanduk, baligho, sewa band, bawa artis untuk menghibur massa, dan diel-diel politik dengan partai politik yang sudah mengusung saya untuk menjadi calon.
Syukur kalau saya menang, nah uang kampanye yang sudah dikeluarkan miliran rupiah ini bisa diambil dari berbagai sector dan dana taktis seorang pejabat. Tapi kalau kalah, bagaimana nantinya, kalaulah jiwa dan iman bisa-bisa saya menjadi stress. Apalagi kalau uang yang saya peroleh itu hasil menjual tanah warisan, rumah, hutang sana-sini, mengharapkan sponsor berapalah, karena ada aturan main untuk mensponsori seorang calon.
Keunggulan yang saya miliki adalah pendidikan, sarjana ekonomi pertanian, banyak membaca buku tentang tokoh yang sudah mapan, baik dalam negeri maupun tokoh dalam negeri yang sukses membangun daerahnya. Nah, setelah dihitung-hitung secara kasat mata, untuk saat ini saya tidak mampu untuk bertarung di pilkada di negeri angin saya itu. Lantas, teman-teman kecewa mendengar jawaban saya itu.
Tapi, saya katakana untuk saat ini saja; tapi untuk beberapa tahun ke depan, saya berusaha memutarbalikan rasa takut saya itu menjadi sebuah keberanian, saya akan menggali potensi berbagai lini. Saya akan belajar lagi, sehingga ketika saya duduk menjadi pejabat dan menjabat, tidak hanya besar omong saja, tetapi sudah memiliki konsep yang matang untuk pembangunan.
Mendengar jawaban saya, teman-teman yang semulanya suram, sedikit cerah, mendengarkan kesanggupan saya. Karena apa mereka berharap banyak dengan saya, karena katanya; bapak pejabat yang telah menjabat bertahun-tahun di negeri saya itu tidak memiliki visi pembangunan. Itulah susahnya, karena kalau pun saya menjadi pejabat, apa saya mampu menjadi seorang bapak pembangunan. ***