sepotong catatan kerja
17 May
SUDAH selama 12 hari saya tidak melakukan posting di website http://bangandra.com. Selama 12 hari, saya cuti menghadapi laptop, hal ini tersebabkan karena saya pulang ke kampung untuk menikahkan adik perempuan saya di desa pantai, di sebelah selatan Kabupaten Indragiri Hilir Riau.
Selama hampir sepekan saya bertungkus lumus dengan namanya tamu, sanak saudara, teman-teman alumni SD Negeri 013, yang datang dari berbagai pelosok negeri yang bernama Indonesia ini.
Apatahlagi, saya ini jarang-jarang pulang ke kampong. Kalaulah dihitung secara tahunan, hamper 3 tahun saya tidak pulang kampung. Dan, kalau dihitung dengan hari, anda kalikan saja 365 hari dikalikan 3=?. Tentulah kehadiran saya ini sangat ditunggu-tunggu, karena saya adalah anak tertua yang harus menjadi wali nikah adik, karena orangtua saya sudah lama meninggal.
Yang datang itu semuanya sanak keluarga. Ada, saudara yang datang dari Jambi, Rengat, Kuala Tungkal, Karimun, Pulau Kijang, Kotabaru, dan negeri-negeri yang ada di sekitar negeri saya pulak. Semuanya pada berkumpul di rumah saya, berdindingkan papan dan terletak di atas tanah lumpur.
Pesta adatpun dimulai. Bagi yang ahli memukul gong, terus saja memukul gong. Bunyinya gong…! Gong…! Yang ahli menabuh gendang, kulintang. Suara-suara alat tradisional ini berbaur pula dengan riuh-rendah suara anak-anak, suara ibu-ibu yang bekerja sambil mengerumpi. Mulai dari cerita sinetron, hingga cerita perkembangan anak-anak mereka.
Sementara, para kaum laki-laki sibuk mendirikan tenda (istilah dikampung bangsal), memasang pelaminan, menata aliran listrik dari mesin diesel dengan kekuatan tidak sampai 2000 watt. Kalau minyak sulit didapatkan, maka listrik pun bertahan hanya beberapa jam saja. Setelah itu, maka penerangan yang tidak punar sejak saya lahir adalah lampu teplok. Tapi, karena ada pesta, maka rakyat yang biasa hidup bersosialisasi dan bergotong royong, tetap kukuh bekerja membantu yang punya hajatan.
Cuma, dalam pesta pernikahan adik saya ini tak ada pejabat yang datang, karena memang tak diundang. Satu-satunya pejabat adalah Sekcam, PNS di dua Kecamatan, Lurah, itupun karena masih bersangkutan dengan tali darah.
Orang-orang di kampung menyarankan untuk mengundang Pak Bupati, anggota DPRD, atau Pak Camat, karena kata mereka, saya ini banyak kenal dengan pejabat dan pejabat pun banyak kenal dengan saya –maaf agak menyombong dikit, tak apalah ya–, sehingga wajarlah kalau mereka-mereka itu diundang.
Lantas, saya menjawab tidak perlu. Tak perlu pernikahan adik saya ini dihadiri pejabat di negeri saya, karena sekarang ini zamannya suksesi untuk berbagai pencalonan. Saya yang menyelenggarakan pesta untuk pernikahan adik, tapi mereka yang mendapatkan support dari masyarakat karena sudah hadir di tengah-tengah masyarakat. Saya katakana rugi; Saya lebih senang dihadiri orang sekampung, mulai dari anak-anak kecil hingga orangtua, daripada dihadiri seorang pejabat. ***
One Response for "Rugi Dihadiri Pejabat"
waduh.. ternyata abang orang Riau, salam kenal bang. saya dari Pekanbaru.
semoga adek bang bahagia..
Leave a reply