BOCAH kecil itu senang dipanggil Ronalzi, tapi nama sebenarnya Ronal Zidane–. Waktu dia lahir, pada tahun 1998, tepatnya pada 12 Juli. Dimana ratusan juta pasang mata, dan sekitar 75 ribu penonton termasuk Presiden Prancis Jaques Chirac ikut menyaksikan babak final wordcup, antara Prancis melawan Brazil, yang digelar di Stade de France, Saint Dennis.
Tidak hanya presiden Prancis yang menyaksikan pertandingan si kulit bundar yang hanya digelar empat tahun sekali, orangtua Ronal, bernama Didin, ikut juga menonton di televise umum di salah satu rumah sakit di Batam, sambil menanti harap-harap cemas, istrinya yang mengerang kesakitan, karena akan melahirkan anak pertamanya.
Apatahlagi, sebelum partai final digelar, beberapa media merilis bahwa pelatih Mario Zagallo tak akan menurunkan pemain idolanya Ronaldo dalam starting line-up. Pemain yang telah mencetak empat gol selama pertandingan piala dunia 1998, dikabarkan masuk rumah sakit karena cedera ankle kaki kiri.
Si Didin ngomel. Dia ingin sekali melihat di kepala pelontos ini bermain, menggiring bola dari jarak 35 meter, dan meleset ke gawang Prancis. Dan dia ingin sekali, ketika pertandingan berlangsung, istrinya melahirkan, maka apa yang diharapkannya terkabulkan, yaitu memberi nama anaknya Ronaldo.
Tapi satu menit menjelang kickoff, Ronaldo ternyata hadir. Keputusan yang menimbulkan pertanyaan mengapa sang phenomenon tetap diturunkan padahal dia tak bisa berbuat banyak. Kemudian, pada saat pertandingan berlangsung bintang partai final adalah Zinedine Zidane. Pemain yang sempat menerima kartu merah saat menghadapi Arab Saudi di putaran grup itu menunjukkan kepiawaiannya.
Zindedina Zidane, Tak pernah dikenal unggul di udara, Zidane justru mencetak dua gol lewat kepalanya. Emmanuel Petit memastikan kemenangan Les Bleus 3-0.Didin kecewa..! Tim jagoannya kalah..! Kekesalan, kecemasan, bercampur aduk dalam pemikiran Didin, karena si istri belum juga melahirkan anaknya.
Ketika menanti kelahiran si cabang bayi, dengan seketika Didin ingin merubah nama anaknya bernama Zidan. Karena Zindedine Zidane telah menunjukkan penampilan yang sangat fantastis di Piala Dunia 1998 . Publik sepakbola pun menginginkan Zizau ini dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia. Kelebihan dan keahliannya melakukan dribbling dan penguasaan bola sering membuat pemain lawan merasa frustasi, karena sulitnya merebut bola darinya. Pelatih-pelatihpun beranggapan bahwa memaksakan man-to-man marking terhadap Zidane adalah pekerjaan sia-sia.
Hal inilah yang membuat semangat Didin untuk merubah nama anaknya dari Ronal menjadi Zidan. Setelah hampir dua jam istrinya bertarung melawat ‘’maut’’ yang namanya melahirnya, akhirnya sang bayi lahir. Dengan girangnya Didin berucap, alhamdulillah Ronalzi lahir…! Ronalzi lahir..!
‘’Kok..! Ronaldi Bang?’’ Tanya istrinya.
‘’Bukankah kita akan memberi namanya, Muhammad Soleh, biar besar nanti menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada orangtuanya,’’ kata sang istri.
‘’Biar aja namanya Ronalzi, singkatan dari Ronal Zidan. Nanti kalau besar bisa menjadi pemain sepakbola, seperti Ronaldo dan Zidane. Nanti bisa menjadi sepakbola Kabupaten, Provinsi dan Negara,’’ jelas suaminya.
‘’Sadarlah bang..! pemain sepakbola di Indonesia gak bakalan seperti Ronaldo dan Zidane. Karena atlit-atlit kita jarang diperhatikan, bahkan ada yang senggara, menjual mendali dan macam-macamlah. Udahlah bang, diberi nama Soleh sajalah,’’ pinta istrinya. Didin termenung. Kata-kata istrinya ada benarnya. Atlit di Indonesia selalu ‘’terabaikan’’.
Meskipun demikian, Didin tetap memberi nama akanya Ronalzi. Tetapi dia tidak menginginkan anaknya menjadi pemain sepakbola di negaranya. ***