[Batam News, Senin, 8-9-2008]
PAK Andak pergi mengurus semua persyaratan menjadi calon legislative. Mulai dari surat keterangan berkelakuan baik dari kantor polisi, hingga surat keterangan kesehatan.
‘’Bapak hendak cek kesehatan jugak?’’ tanya seorang perawat di puskesmas, berparas molek, dengan lipstick merah mengkilat.
‘’Ee.. iye Cik Adik oi..!’’ sahut Pak Andak tersemsem melihat kemolekan budak perawat.
‘’Cube bareng di tempat tidor,’’ kata perawat lagi.
‘’Hendak diapekan aku ini?’’ tanya Pak Andak.
‘’Tapi bapak mu ngecek kesehatan.’’
‘’Iye cik adik oi..!’’
‘’Buka bajunya!’’
‘’Untuk ape pakai buka baju pulak?’’
‘’Begini pak, berdasarkan petunjuk pelaksana dari KPUD, bahwa setiap calon legislative yang ingin mengurus surat kesehatan harus diperiksa betol-betol,’’ jelas perawat tu lagi.
‘’Yang betollah dikit,’’ kata Pak Andak ketus.
‘’Betol. Kalau tak percaye nak saye tengokkan kepada bapak,’’ ujar perawat lagi.
Mendengar keterangan perawat, terdiamlah Pak Andak. ‘’Apa boleh buat, kalau sudah menjadi persyaratan, jangankan buka baju, telanjang bulat pun jadi.’’gumam Pak Andak dalam hati.
‘’Telentang..!’’ perintah perawat.
‘’Miring..! Telungkup…! Duduk..! angkat tangan ke atas,’’ perintah perawat lagi, sambil menyenter seluruh badan Pak Andak, karena bola lampu di dalam ruangan pemeriksaan agak gelap. Dan Pak Andak mengikuti saje perintah si perawat.
‘’Ngape pulak pakai center?’’ tanya Pak Andak.
‘’Untuk melihat penyakit secara jelas. Terutama panau dan kurap. Sebab, kate anggota KPUD, setiap calon tak boleh ada panau dan kurap,’’ kata perawat tersenyum. Perutanya bergoyang-goyang menahan geli.
‘’Eeh..! engkau jangan membengak pulak dengan menambah-nambah pasal,’’ Pak Andak naik darah.
‘’Betol pak. Katanya kalau kurap dan panu itu mempengaruhi proses persidangan. Orang lagi membahasan peraturan daerah, calon itu asyik pulak menggaruk badannya yang kurapan, sehingga mengganggu persidangan,’’ kata perawat langsung tertawa.
‘’Tapi syukurlah, bapak tidak ada panu dan kurap,’’ tutur si perawat.
‘’Manelah saye ini ada panu dan kurap. Waktu lahir saje, emak aku itu langsung membersihkan dengan air dicampur sambun anti kurap dan panu,’’ Pak Andak meninggi.
‘’Iye ke..’’
‘’Iye. Nah, waktu kecik-kecik aku jarang main di leach, sering di rumah saje, baca buku, mengaji. Jadi tak mungkinlah orang macam aku yang hendsem ini ade panu dan kurap,’’ tutur Pak Andak. Padahal dalam hatinya bersyukur, karena tidak diperiksa di bagian selangkang. Sebab, die lagi menderita kurap.
‘’Baguslah kalau begitu. Tahap selanjutnya bapak harus lari di tempat sebanyak lima ratus kali,’’ perintah si perawat.
‘’Lima ratus!
‘’Iye, untuk mengecek jantung, dan paru-paru,’’ jelas perawat.
‘’Banyak betol,’’ sahut Pak Andak.
Karena perintah, dan syarat, akhirnya Pak Andak menjalaninya semua. Star awal memang bagus, lancar. Namun, baru hitung ke seratus, nafas Pak Andak terengah-engah, keringat sebesar biji jagung terus saja mengalir dari dahinya. Kedua tangannya memegang perut. Dan, bukk…! Pak Andak Sidun tumbang ke lantai, tak tahan lagi. ***