sepotong catatan kerja
11 Sep
[Batam News, Kamis, 11-9-2008]
SEJAK suboh hari hari, Pak Andak sudah sibok pergi ke pasar. Ditangannya tergenggam catatan yang akan dibelanjakan hari ini. Sementara bininya Mak Andak Piah juga dibuat sibok membersihkan rumah. Maklumlah, petang nanti Pak Andak akan menjemput beberapa orang kampong untuk berbuka puasa di rumahnya, sekaligus membentuk tim sukses.
Hampir dua jam berapa di pasar, Pak Andak pulang ke rumah dengan membawa tentengan penuh di tangan kiri dan kanan. Nafasnya terengah-engah, sesak membawa barang.
‘’Oi.. Piah, tolong engkau angkut barang ini bawa masuk ke dalam. Letih betol aku,’’ kata Pak Andak yang duduk tersendam di teras rumahnya. Mak Andak Piah yang lagi berkemas, terhegeh-hegeh keluar dan membawa masuk barang belanjaan yang dibeli oleh lakinya.
Sepanjang hari, sejak pukol 10.00 wib, hingga-lah membawa ke-petang Mak Andak tak lepas dari dapur. Siap satu masakan, dibuat lagi masakan lain. Setiap buat kue, bikin lagi kue yang lain. Maklumlah nak menjemput orang makan, tentulah banyak macam lauk-pauk dan kueh muih yang harus dibuat.
‘’Aduh..! terok betol badan aku hari ini.’’ Mak Andak bergumam. Wajah Mak Andak memang kelihatan letih. Keringatnya terus bercucuran. Kemban kain bermotif batik, sebentar-bentar melorot kebawah, lagu diikatnya lagi. Rambutnya yang panjang dan beruban sudah tak terurus lagi. Walaupun demikian, karena permintaan laki hendak berbuat baik, akhirnya diturutinya jugak.
***
PUKOL Lime petang, rumah Pak Andak mulai didatangi para tamu yang telah dijemput sebelumnya. Ade Anjang Leman –karena orang tinggi panjang, maka dipanggil anjang—datang dengan bininya Wati. Ade Udin Pendek, juga datang membawa bininya Yanti yang terkenal joyah. Ada pulak Ujang Kasdut yang membawa bininya Nila, Wak Man tak terlupakan, juga datang dengan bininya Nursiah. Dan tak ketinggalan dua kawan karib Pak Andak yaitu, Hasan Misai dan Ramli Ceking datang. Tapi, sayangnya orang bedua tak membawa bini, maklumlah masih perjaka tingting.
‘’Saye sengaja berhajat petang ini, untuk mengundang encik-encik dan puan—puan, handai taulan, sahabat, adik-adik untuk berbuka pause di rumah saye,’’ kata Pak Andak.
‘’Karena, ini memang sudah niat lame saye. Lagi pulak, saya ingin bersyukur karena akan menjadi calon legislative deperde, mudah-mudahan saye selamat hingga mencapai tujuan,’’ jelas Pak Andak.
‘’Nah, saye meminta encik-encik dan puan-puan untuk membantu saye menjadi tim sukses. Mari kita dukung kampong sini menjadi pemimpin di negeri ini. Karena ape, sayelah yang akan memperhatikan nasib encik-encik semuanya. Insyaallah!’’ tambah Pak Andak bersemangat –dalam hatinya, kan dah pandai aku berpidato–.
‘’Amin…!’’ sahut semua undangan.
‘’Kami siap mendukung Pak Andak,’’ kata Hasan Misai.
‘’Ye, saye pun siap bertungkus lumus demi Pak Andak,’’ sahut Ramli Ceking.
‘’Kami pun siap membantu Pak Andak, demi orang kampong sini,’’ teriak pada undangan. Mendengar itu, senanglah hati Pak Andak. Wajahnya berseri-seri.
‘’Terimakasih semuanya,’’ katanya. Beberapa menit kemudian tersengarlah azan maghrib pertanda waktu berbuka sudah sampai. Tak elak lagi, Ramli dan Hasan, dengan segera menyantap bubur kacang bercampur durian.
‘’Tim sukses nampaknya selalu sukses,’’ kata Ramli kepada Hasan yang disambut dengan anggukan saja. ***
Leave a reply