sepotong catatan kerja
23 Sep
SETELAH melepas dari Rafeah, setahun kemudian, tepatnya pada malam ramadhan Pak Andak pun mulai menabur benih cinta kepada seorang perempuan bernama Nurbaiti. Pak Andak terpicut dengan Nurbaiti setelah pulang salat tarawih bersama-sama, dan mengatakan kalau dirinya masih status kosong alias tidak ada laki-laki yang mengisi di hatinya.
Benih cinta yang sudah lama terkubur, mulai menusuk ke atas. Pak Andak pun langsung mengutarakan kalau dirinya suka terhadap Nurbaiti, yang akrab di panggil Nur.
‘’Sungguh! Hati abang ini dah lama terpatri, baru sekarang ini mulai ada rasa kasih dan sayang terhadap wanita,’’ kata Pak Andak, sambil mengiringki langkah kaki Nur hendak pulang ke rumah.
‘’Entahlah bang, sakit hati saye terhadap laki-laki belumlah pudar,’’ jawab Nur.
‘’Abang pon juga seperti itu Nur. Setahun lamanya sakit hati ini bagaikan ditusuk berjuta-juta sembilu yang tajam,’’ tutur Pak Andak.
‘’Itulah bang…!’’
‘’Kita ini sama-sama pernah disakiti. Nur pernah disakit laki-laki, abang pernah disakiti perempuan. Jadi, abang rase marihlah kita mencoba lembaran baru, dan belajar dari pengalaman kita masing-masing,’’ jelas Pak Andak kepada Nur.
‘’Itulah bang yang saye pikirkan sekarang ini,’’ tutur Nur.
‘’Iyelah. Nur berpikirlah, tapi jangan terlalu lama takut abang,’’ ucap Pak Andak.
****
RUPANYA, kisah percintaan Pak Andak dengan Nurbaiti tercium juga oleh Ahmad Kasim, orangtua Pak Andak. Tetapi, arah jam terbalik. Waktu bercinta dengan Rafeah, orangtua Rafeah yang tak menyetujui, tapi kali ini malah orangtua Pak Andak yang tidak setuju kalau dirinya bercinta dengan Nurbaiti, dengan alasan mawar dah layu alias janda.
Memang Nurbaiti ini janda yang ditinggal pergi oleh lakinya merantau ke Malaysia. Sudah tiga tahun suaminya tak pulang-pulang. Nafkah lahir dan bathin tidak pernah diberikan oleh lakinya, sehingga Nur pun menggugat percerai di pengadilan agama.
‘’Ape karena dia janda, bah..!’’ suara Pak Andak agak meninggi ketika kedua orangtuanya melarang berhubungan dengan Nurbaiti.
‘’Bukan hanya karena dia janda. Tetapi banyak sebab kami tidak menyetujui engkau memadu kasih, apalagi sampai ke kursi pelaminan. Jadi mulai hari ini engkau tak usah lagi nak menggatal ke rumah tu,’’ kata Ahmad Kasim.
‘’Dun..! kami sudah menyiapkan seorang anak dara untuk engkau,’’ timpal emaknya.
‘’Macam cerita Siti Nurbaya saje,’’ sahut Pak Andak lagi yang semakin kesal.
‘’Bukan Siti Nurbaya, tetapi untuk kebaikan engkau juga…’’ kata abahnya.
‘’Betol Dun. Engkau belom menilik lagi siapea budaknya. Eh, budaknya lawea, kulitnya putih, rambutnya panjang. Tinggi macam engkau lah. Masih sedare mare jugak dengan kite ini,’’ jelas emaknya.
Pak Andak hanya bisa mendiamkan dirinya. Kalau sudah kehendak orangtua haruslah diikutkan, takut kualat. Akhirnya, Pak Andak Sidun pun menikah dengan Piah, yang menjadi istrinya sekarang ini.
‘’Dulu memang Piah cantik…tapi sekarang tak cantik lagi, karena dah tue, keriput..’’ Pak Andak tertawa cekikikan.
‘’Ape bang..! sergah bininya yang sedari tadi memperhatikan perangai Pak Andak yang tersipu-sipu sendirian, sambil mengutil, mengait dan merangkai kaleng.
‘’Astragfirullah..! terperajat aku Piah. Taklah, terkenang masa silam saje kalau sudah malam selekor ini,’’ jawab Pak Andak, yang langsung mengemas barang-barangnya dan pergi masuk ke dalam. ***
Leave a reply