sepotong catatan kerja
23 Sep
PAK Andak nak pergi ke Singapura. Dah lama niatnya untuk pergi ke negeri jiran tersebut, untuk melihat suasana ramadhan. Kabar yang sampai ke telinga Pak Andak, orang muslim di S’pore , seperti di Geylang dan kawasan lainnya, selalu memeriahkan bulan Ramadhan ini dengan menjual berbagai macam tajilan.
Dan satu hari menjelang lebaran, kue-muih yang tidak laku lagi dijual, langsung dibagi-bagikan kepada orang, bahkan ada yang terbuang begitu saja. Kabar inilah yang terus merasuk hati Pak Andak, untuk pergi ke S’pore. Sayangnya, Pak Andak tidak berbahasa Inggris.
‘’Orang cakap, di S’pore harus bise cakap orang putih. Karena, semua percakapan harus menggunakan bahasa Inggris. Sementara saye tak bisa.’’ Gumam Pak Andak pada suatu hari. Akhirnya, dengan berat hati, Pak Andak pun belajar dengan Sabila, anak Anjang Leman yang baru lulus Sekolah Menengah Atas.
‘’Pak Andak..! kalau di S’pore mau belanja harus cakap orang kulit putih. Orangnya banyak dan sibuk. Kadang-kadang kite sering telanggar. Jadi, kalau kite menyinggol orang, kite ucapkan I’am sory,’’ kata Sabila mengajari Pak Andak.
Satu minggu lamenya Pak Andak hanya membelajar mengucapkan kata-kata I’am sory. Nah, pada minggu depannya, Pak Andak pun belajar berhitung, mulai dari one, two, hingga ten. Sudah hapal hitungan ke sepuluh, akhirnya Pak Andak berangkat juga ke S’pore.
Maklumlah baru pertama kali mengijakan kaki ke negeri seberang, tentulah Pak Andak banyak tengok kiri-tengok kanan. Lirik sana, lirik sini.
‘’Tak betul juga Sabila tu. Ternyate orang S’pore pandai pon cakap melayu…! Dan lagipulak, dah tiga jam aku di sini tak pernah dilanggar orang,’’ ujar Pak Andak.
Karena celengak-celengok, hingga ke tengah jalan, tibe-tibe seorang bule menabrak Pak Andak, dan nyaris jatuh. Tetapi, bukannya bule yang minta maaf dulu, tetapi justru Pak Andaklah yang mengucapkan.
‘’Inilah kesempatan aku mengamalkan pelajaran bahasa Inggris. Karena orang bule ini tentu tak pandai cakap Melayu. I’am sory..’’ kata Pak Andak.
Lantas dijawab oleh sang bule.
‘’I’am sory to..’’ jawab bule. Karena mendengar kata-kata ‘to’ Pak Andak pun langsung berucap.
‘’Two… berarti dua.!’’ Gumam Pak Andak, sambil menghitung jari tangannya. Lalu, Pak Andak pun membalasnya.
‘’I’am sory three,’’ ujar Pak Andak lagi, sambil mengangkat tangannya. Hal inilah yang membuat sang bule kebingungan.
‘’What for…?’’ tanya si bule kepada Pak Andak lagi.
‘’For…! Berarti empat…’’ ucap Pak Andak. Lantas, dengan lantangnya Pak Andak mengeluarkan kata-kata.
‘’You sick,’’ kata di bule lagi.
‘’Six..! berarti enam kata pak Andak, langsung saja dia melambaikan tangannya.
‘’I’am sory seven…!’’
Si bule tambah kebingungan apa yang baru didengarnya. Kemudian.
‘’You crazy..!’’ kata si bule langsung pergi meninggalkan Pak Andak yang tersengeng-sengeng.
‘’Crazy…!’’ ucap Pak Andak.
‘’Nah, aku baru belajar berhitung dari one sampai teen, satu sampai sepuluh. Nah kalau crazy berapa lagi ye…’’ Pak Andak bercakap-cakap sendirian.
‘’Baru belajar sampai berhitung satu sampai ke sepuluh, Anjang Leman tibe-tibe nak mengawinkan Sabila, sehingga budak tu tak mengajari aku. Terlalu si Anjang Leman tu,’’ ucapnya.
Dengan melambaikan tangannya Pak Andak pun berucap kepada sang bule yang sudah jauh dari pandangan.
‘’Oke lah ncik bulek.. I’am sory crazy!’’ ucap Pak Andak langsung pergi. ***
One Response for "I’am Sory Seven"
memang lucu habis…. teruskan saje pak andak…
Leave a reply