sepotong catatan kerja
23 Sep
PAK Andak hendak memasang lampu colok di depan rumahnya, terutama pada malam selekor nantinya –malam selekor itu tepat pada malam 21 bulan ramadhan, hingga lebaran–. Di kampong-kampung pada malam selekor ini sangat meriah. Ada yang membuat lampu colok, tanglo lampu bermotif bintang, memasang lilin di depan rumah dan hiasan lampu tradisional lainnya.
Biasanya orang membuat lampu colok bermotif masjid, ucapan selamat hari raya Idul Fitri. Tapi Pak Andak membuat motip berbeda tahun ini. Dia membuat motif bertuliskan ‘Pak Andak Sidun’ di singkat PAS. Dengan motto PAS-Yes!!
‘’Nah, ini baru suai…’’ kata pak andak, sambil merangkai kaleng bekas minuman membentuk motif yang diinginkan. Tiba-tiba, terdengar teriakan dari dalam rumah.
‘’Bang….! tak mandi ke. Hari dah petang,’’ pekik bininya dari dalam. Mak Andak lagi sibok menyiapkan untuk berbuka puasa. Petang ini Mak Andak menyiapkan buah melaka dan minuman Laksamana Mengamuk.
‘’Dikit lagi selesailah,’’ sahut Pak Andak. ‘’Bini aku ini asyik nak menyibok aje. Tak tengok laki lagi bekerja,’’ gumam Pak Andak.
Sambil merangkai kaleng bekas minuman, Pak Andak pun terkenang pada masa silam, dimana waktu dirinya masih muda-muda. Kalau sudah malam selekor, mulailah anak-anak muda menjadi ulat bulu, genit, dan sibuk nak bercinta. Dan Pak Andak, saat itu juga lagi miang-miangnya, karena tersengsem (terpicut) kepada budak dara bernama Rafeah. Anaknya elok, putri sulung Ajis Baka, seorang pedagang kelotong di pasar Bengkalis.
‘’Raf. Kalaulah bulan itu bisa abang gapai, tentulah abang persembahkan untuk adinda seorang,’’ Pak Andak Sidun waktu muda, merayu Rafeah, di depan rumah Rafeah sambil menatap bulan mengambang di langit yang hitam.
‘’Eeh.. abang pandai juga nak bersastra,’’ kata Rafeah sambil mencubit genit paha Pak Andak.
‘’Aduh…!’’
‘’Ngape Bang! Sakit.’’
‘’Tak..! sekali lagi,’’ pinta Pak Andak.
‘’Taklah…’’
‘’Benar adinda. Hati abangnya selalu gelisah, kalau tak melihat adik, walaupun hanya sekerlip mata saja,’’ Pak Andak semakin menusuk jarum-jarum asmara kepada Rafeah.
‘’Entahlah bang..! saya pun merasa ada getaran lain di hati. Tapi, saye tidak bisa mengungkapkan kata-kata.
Suasana menjadi hening sejenak. Tiba-tiba, terdengar suara berdehem dari dalam. Rupanya, bapak Rafeah sudah memberi kode kepada mereka bedua, agar segera berpisah pada malam itu. Selidik punya selidik, ternyata Ajis Baka tidak suka dengan Pak Andak Sidun. Pasalnya, karena Pak Andak ini budak pemalas, tak pernah bekerja keras, asyik nak lontang lantung saja ke sana ke mari.
‘’Abang permisilah nak balek. Nampaknya ‘musang’ di dalam dah memberi kode,’’ kata Pak Andak kepada Rafeah yang hanya dijawab dengan anggukan saja. Memang percintaan Pak Andak dengan Rafeah putus begitu saja, tanpa sebab dan musabab yang jelas. Pak Andak patah hati, apatahlagi diketahui Rafeah mengikat petunangan dengan seorang pemuda dari kampong lain, atas paksaan orangtuanya. Memang pemuda yang akan menjadi tunangan Rafeah itu memiliki kebon karet yang luas.
‘’Nasib-nasib…!’’ kata Pak Andak. ***
Leave a reply