sepotong catatan kerja
6 Oct
Allahuakbar…! Allahuakbar…!
Gema takbir terus berkumantang seantero negeri. Termasuk masjid Al Muhajirin di kampong Pak Andak tinggal. Sejak habis salat isya, gema takbir itu berkumdang dari hingga hingga waktu salat Idul Fitri tiba.
Mendengar takbir menggema, wajah Pak Andak berseri-seri. Dengan stelan baju kurung warna hitam legam, dan celana panjang hitam, Pak Andak pun duduk di shaf paling depan, tepatnya di belakang Imam. Setelah menunaikan salat Idul Fitri, dan mendengarkan khutbah hari raye yang disampaikan seorang ustad, Pak Andak pun langsung menarik mikropon yang dipakai oleh Imam. (more…)
6 Oct
SELEPAS salat Idul Fitri Pak Andak berniat mau mengundang orang kampong untuk mencicipi makanan yang dimasak oleh bininya. Kalau bahasa gaul pejabat sekarang ini open house-lah. Tetapi, bahasa orang kampong dulu adalah baca doa selamat.
Nah, karena bakalah mengundang orang se kampong, Pak Andak pun menyuruh bininya membuat masakah bermacam ragam dan dalam jumlah yang banyak pulak. Dari daftar yang diberikan Pak Andak kepada bininya ada opor ayam kampong sebanyak dua ekor. Nah, ayam ini sebenarnya ayam sabong Pak Andak yang sudah tua bangkotan, betaji panjang yang disembelihnya, karena nak membeli ayam yang baru tak mampu, satu kilo saja sekarangnya sudah mencapai harga Rp50.000,-. (more…)
23 Sep
CUCU Pak Andak bernama Indra, tergolong budak paling degil di kampongnya. Padahal umurnya baru empat tahun, belum masuk sekolah taman kanak-kanak, tapi kelakuannya nauzubillah..! bengak betul. Diajarin berpuase, selalu saje mencuri makanan di dapur.
‘’Cucu..! engkau tak puase,’’ tanya Pak Andak kepada cucunya yang lagi asyik main dengan temannya, kebetulan seorang budak perempuan.
‘’Tak tok..!’’
‘’Ngape tak puase..?’’ tanya Pak Andak lagi.
‘’Iin lagi kedatangan bulan!’’ jawabnya. (more…)
23 Sep
PAK Andak nak pergi ke Singapura. Dah lama niatnya untuk pergi ke negeri jiran tersebut, untuk melihat suasana ramadhan. Kabar yang sampai ke telinga Pak Andak, orang muslim di S’pore , seperti di Geylang dan kawasan lainnya, selalu memeriahkan bulan Ramadhan ini dengan menjual berbagai macam tajilan.
Dan satu hari menjelang lebaran, kue-muih yang tidak laku lagi dijual, langsung dibagi-bagikan kepada orang, bahkan ada yang terbuang begitu saja. Kabar inilah yang terus merasuk hati Pak Andak, untuk pergi ke S’pore. Sayangnya, Pak Andak tidak berbahasa Inggris. (more…)
23 Sep
ALKISAH, sepulang dari pasar Yanti bini Udin Pendek, bersungut-sungut ke rumah Pak Andak. Mulutnya meracau, tak henti-hentinya mengomel, pasalnya barang-barang di pasar semua pada mahal. Gula mahal, tepung mahal, susu apalagi, telor pun ikut mahal. Hal ini yang membuat Yanti runsing tak kepalang.
‘’Sejak bulan pause ni, naning kepale saye jadinye Pak Andak!’’ seru Yanti.
‘’Maksud awak tu?’’ Tanya Pak Andak. (more…)
Recent Comments