<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Sapa Aku Bang ANDRA</title>
	<atom:link href="http://bangandra.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bangandra.com</link>
	<description>sepotong catatan kerja</description>
	<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 07:39:38 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Lintang &#038; Ahmad Dahlan</title>
		<link>http://bangandra.com/2008/10/06/lintang-ahmad-dahlan/</link>
		<comments>http://bangandra.com/2008/10/06/lintang-ahmad-dahlan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 07:23:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangandra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangandra.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Dari Novel dan Film Laskar Pelangi
MIRA Lesmana dan Riri Riza: Adalah sineas Indonesia yang berani menggarap novel best seller karya Andrea Hirata itu menjadi sebuah film layar lebar, yang bermutu. Apalagi, seluruh pembuatan film ini dilaksanakan di Pulau Belitong, dan pemerannya adalah anak-anak Belitong yang tidak pernah mendapatkan pendidikan berfilman. Meskipun, pembaca Laskar Pelangi tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://bangandra.com/wp-content/uploads/2008/10/lp-22.jpg' alt='' class='alignleft' /><strong>Dari Novel dan Film Laskar Pelangi</strong><br />
MIRA Lesmana dan Riri Riza: Adalah sineas Indonesia yang berani menggarap novel best seller karya Andrea Hirata itu menjadi sebuah film layar lebar, yang bermutu. Apalagi, seluruh pembuatan film ini dilaksanakan di Pulau Belitong, dan pemerannya adalah anak-anak Belitong yang tidak pernah mendapatkan pendidikan berfilman. Meskipun, pembaca Laskar Pelangi tidak menginginkan novel ini diangkat menjadi sebuah film, karena kekecewaan pembaca terhadap film-film sebelumnya yang juga diangkat dari novel. Kenapa, karena garapan sineas banyak yang melenceng dari makna novel itu sendiri. Bahkan, ada kesan pemaksaan karakter. Tapi, untunglah Andrea Hirata mengizinkan novelnya diangkat menjadi sebuah film, walaupun melalui proses panjang pengeditan scrip (naskah).<span id="more-110"></span><br />
Novel Laskar Pelangi: Bagaimana kita membayangkan novel ini dijadikan film, itulah yang dirasakan oleh Walikota Batam Ahamd Dahlan bersama istrinya Mariana Dahlan sehingga dia tertarik untuk  menonton film Laskar Pelangi di theater 1 Studio XXI,  di Batam.<br />
‘’Saya sudah membaca semua buku karya Andrea Hirata, itu And,. Jadi saya kepingin nonton filmnya juga,’’ kata Walikota kepada saya, selepas keluar dari theater. Memang, pada malam itu, saya berkesempatan nonton bersama walikota Batam Ahmad Dahlan yang datang bersama  istrinya, beserta beberapa orang staf Pemerintah Kota Batam.<br />
Saya yang duduk tepat di belakang walikota, jaraknya hanya tiga kursi dari sebelah kirinya, sekali-kali mencuri pandang ke tempat duduknya. Bagaimana respon Ahmad Dahlan ketika mengikuti alur film tersebut. Saya menguraikan sedikit saja, bahwa respon walikota sama saja dengan respon penonton lainnya. Ketika Bu Muslimah menangis, karena pamannya meninggal dunia, raut wajah walikota juga kelihatan sedih. Begitu juga ketika Mahar seperti orang gila, yang lagi mencari inspirasi untuk groupnya yang akan bertanding pada perayaan 17 Agustus, ekspresi walikota juga senang. Penonton tertawa, walikota juga tertawa.<br />
‘’Anak yang cerdas dan punya ‘akhlakul kharimah’ hendaknya menjadi inspirasi bagi semua pelajar di Batam untuk meraih cita-citanya kelak. Banyak goresan alamiah yang memunculkan inspirasi dan pesan moral dalam film tersebut dan inilah potret pendidikan Indonesia sebenarnya,’’ begitulah ungkapan sang walikota, seusai menonton Laskar Pelangi kepada sejumlah media.<br />
Kepada wartawan, Ahmad Dahlan mengungkapkan rasa  haru, ketika  menyaksikan salah satu scene dalam film tersebut, dimana  saat Muslimah hampir saja terpengaruh oleh sikap rekannya Bakri, untuk pindah dan menutup sekolah yang digambarkan sebagai sekolah Islam tertua dan satu-satunya di Kecamatan Gantong, Belitong Timur tersebut.<br />
”Saya benar-benar terharu. Apalagi setelah tahu, komitmen seorang Muslimah, putri salah seorang pendiri sekolah tersebut akhirnya tetap memilih meneruskan perjuangan di sekolah itu, ini luar biasa dan sangat menyentuh dan itulah kekuatan thematic dari film tersebut yang sarat pesan moral kepada kita semua ” katanya.<br />
Ahmad Dahlan, lagi-lagi berpesan  agar  masyarakat, pengusaha  mau  terlibat langsung maupun tidak langsung untuk  mendukung perkembangan pendidikan di Batam ke arah yang lebih baik, khususnya di daerah Hinterland. Walaupun hanya memiliki fasilitas seadanya, para siswa dan guru harus tetap memiliki semangat dan cita-cita yang tinggi dan pada kesempatan yang terencana, pemerintah akan selalu berupaya melakukan perbaikan mutu dan infrastruktur pendidikan di Batam. Termasuklah upaya meningkatkan kesejahteraan para guru, ketersediaan fasilitas asrama bagi siswa di pulau yang melanjutkan ke jenjang SMA di pulau Buluh dan Belakang Padang, serta beasiswa bagi pelajar hinterland.<br />
Upaya tersebut sudah barang tentu supaya para generasi penerus kita tersebut tidak seperti Lintang, ungkap walikota.  Lintang dalam film ini merupakan sosok siswa cerdas tapi kondisi prekonomian keluarganya sangat miskin dan hanya tergantung pada penghasilan ayahnya yang melaut saban hari dengan menggunakan alat tangkap ikan tradisional. Lintang juga harus menempuh perjalanan yang amat jauh untuk mencapai sekolahnya.  Lintang sebagai anak yang cerdas dan punya akhlakul kharimah hendaknya menjadi inspirasi bagi semua pelajar di Batam untuk meraih cita-citanya masing-masing kelak, tutup Dahlan.</p>
<p>Ditutup dengan lagu :</p>
<p>laskar pelangi<br />
takkan terikat waktu<br />
jangan berhenti mewarnai<br />
jutaan mimpi di bumi<br />
menarilah dan terus tertawa<br />
walau dunia takseindah surga<br />
bersukurlah pada yang kuasa<br />
cinta kita di dunia<br />
selamanya…</p>
<p>(Laskar Pelangi - Nidji )<br />
<img src='http://bangandra.com/wp-content/uploads/2008/10/lp-14.jpg' alt='' class='alignleft' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangandra.com/2008/10/06/lintang-ahmad-dahlan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Open House, Ala Pak Andak</title>
		<link>http://bangandra.com/2008/10/06/open-house-ala-pak-andak/</link>
		<comments>http://bangandra.com/2008/10/06/open-house-ala-pak-andak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 03:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangandra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangandra.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Allahuakbar…! Allahuakbar…! 
Gema takbir terus berkumantang seantero negeri. Termasuk masjid Al Muhajirin di kampong Pak Andak tinggal. Sejak habis salat isya, gema takbir itu  berkumdang dari hingga  hingga waktu salat Idul Fitri tiba.
Mendengar takbir menggema, wajah Pak Andak berseri-seri. Dengan stelan baju kurung warna hitam legam, dan celana panjang hitam, Pak Andak pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Allahuakbar…! Allahuakbar…! </em><br />
Gema takbir terus berkumantang seantero negeri. Termasuk masjid Al Muhajirin di kampong Pak Andak tinggal. Sejak habis salat isya, gema takbir itu  berkumdang dari hingga  hingga waktu salat Idul Fitri tiba.<br />
Mendengar takbir menggema, wajah Pak Andak berseri-seri. Dengan stelan baju kurung warna hitam legam, dan celana panjang hitam, Pak Andak pun duduk di shaf paling depan, tepatnya di belakang Imam. Setelah menunaikan salat Idul Fitri, dan mendengarkan khutbah hari raye yang disampaikan seorang ustad, Pak Andak pun langsung menarik mikropon yang dipakai oleh Imam. <span id="more-108"></span><br />
‘’Pinjam sekejap Pak Imam, saye nak pidaot dikit aje,’’ kata Pak Andak sambil menarik micropone dari tangan Imam. Lantas, dengan suara lantang Pak Andak pun mengucapkan serangkaian kata-kata, sebagai berikut; </p>
<p><em>Kalau ada jarum yang patah,<br />
Jangan disemat di kait lansi<br />
Kalaulah ade ungkapan kate yang salah,<br />
Ee… janganlah tuan-puan laporkan saye ke polisi..</p>
<p>Bila ada langkah membekas lara<br />
Ada kata merangkai dusta<br />
Ada tingkah menoreh luka<br />
Mohon maaf lahir dan bathin<br />
Selamat hari raya Idul Fitri 1429 H.</em></p>
<p>Mendengar suara seperti itu, orang kampong yang hendak pulang ke rumah, berhenti sejenak.<br />
‘’Nah, encik-encik dan puan-puan, jike berkenan, sudi-lah datang ke rumah karena hari ini saye mengadekan open house…’’ pekik Pak Andak.<br />
‘’Makanan tidak mengecewakan warga kampong. Semuenya sedap-sedap..! mari kite semuanya ke rumah saye,’’ ucap Pak Andak lagi, langsung menyerahkan micropone kepada Imam yang berdiri di belakang, dan melompat balik ke rumah.<br />
Memang baru beberapa menit saje, orang kampong berduyun-duyun datang ke rumah Pak Andak, mencicipi makanan yang telah disediakan di dalam talam. Ramli Ceking dan Hasan Misai tidak ketinggalan, bujang bedua ini menjadi panitia penyambutan tamu.<br />
‘’Makan..! makan yang banyak ye..!’’ kata Pak Andak sambil mempersilakan tamunya menikmati hidangan.<br />
‘’Mantap betol masakannya Pak Andak…! Tak pernah saye merasakan masakan seperti ini,’’ pekik Wak Man, yang bertambuh-tambuh mengambil opor ayam dan lontong sayur.<br />
‘’Betol Pak Andak, ini rending the best-lah,’’ sahut Ujang Kasdut sambil mengacungkan jempol kepada Pak Andak.<br />
‘’Memanglah Mak Andak itu pandai betol masak,’’ timpal Udin Pendek, sambil memunggah opor ayam ke dalam pinggannya.<br />
‘’Hentam saje kalau sedap. Bini saye itu memang pandai masak. Cume die agak malas masak, tetapi sekali masak, memang paling sedap,’’ kata Pak Andak meninggi.<br />
Karena banyak orang yang datang, akhirnya semua makanan yang dihidangkan habis, sehingga Pak Andak, Mak Andak, Hasan Misan dan Ramli Ceking tak kebagian makanan.<br />
‘’Jadi habis semuanye?’’ teriak Pak Andak, Hasan dan Ramli serempak.<br />
‘’Habis..! syukurlah jadi masakan saye memang sedap,’’ jawab Mak Andak selambe macam tak bedosa.<br />
‘’Alamak..! menyesal saye jadi penyambut tamu,’’ kata Hasan Misai, sambil menegok air putih yang tersisa. ***</p>
<p>*** </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangandra.com/2008/10/06/open-house-ala-pak-andak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sembelih Ayam Sabong</title>
		<link>http://bangandra.com/2008/10/06/sembelih-ayam-sabong/</link>
		<comments>http://bangandra.com/2008/10/06/sembelih-ayam-sabong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 03:03:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangandra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangandra.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[SELEPAS salat Idul Fitri Pak Andak berniat mau mengundang orang kampong untuk mencicipi makanan yang dimasak oleh bininya. Kalau bahasa gaul pejabat sekarang ini open house-lah. Tetapi, bahasa orang kampong dulu adalah baca doa selamat.
Nah, karena bakalah mengundang orang se kampong, Pak Andak pun menyuruh bininya membuat masakah bermacam ragam dan dalam jumlah yang banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SELEPAS salat Idul Fitri Pak Andak berniat mau mengundang orang kampong untuk mencicipi makanan yang dimasak oleh bininya. Kalau bahasa gaul pejabat sekarang ini open house-lah. Tetapi, bahasa orang kampong dulu adalah baca doa selamat.<br />
Nah, karena bakalah mengundang orang se kampong, Pak Andak pun menyuruh bininya membuat masakah bermacam ragam dan dalam jumlah yang banyak pulak. Dari daftar yang diberikan Pak Andak kepada bininya ada opor ayam kampong sebanyak dua ekor. Nah,  ayam ini sebenarnya ayam sabong Pak Andak yang sudah tua bangkotan, betaji panjang yang disembelihnya, karena nak membeli ayam yang baru tak mampu, satu kilo saja sekarangnya sudah mencapai harga Rp50.000,-.<span id="more-107"></span><br />
Lantas,  Pak Andak minta dimasakan rendang daging, roti jale ikan tenggiri, kue lapis legit, lemang, ketupat, lontong sayur, dan segale kueh-muih hari raya.<br />
‘’Banyak betol permintaan abang ini…’’ pekik Mak Andak. Matelah tebeliak melihat catatan yang disorong laki kepada dirinya.<br />
‘’Apenya yang banyak?! seru Pak Andak.<br />
‘’Abang bacelah sendiri. Kalau macam ini permintaan awak tu, teroklah saye masaknye bang. Lagi pulak saye  sorang saje bang!’’ keluh bininya.<br />
‘’Tak apelah Piah, kan sekali-kali kite mengundang orang sebanyak ini. Kan abang ini calon pejabat, haruslah membuat acara semacam open house-lah,’’ ucap Pak Andak.<br />
‘’Bagus niat abang tu, tapi kalaulah saye masak semuanya, bise-bise kena stroke saye,’’ kata bininya lagi.<br />
‘’Piah..! Piah..! engkau panggilah anak semate wayang kite untuk membantu masak. Kan beres. Urusan itu pun nak aku pulak ikut campur,’’ keluh Pak Andak.<br />
‘’Udahlah.. engkau masak saje disana, saye lagi menyiapkan pidato sambutan dari  tuan rumah yang mengundang para tamu-tamu,’’ kata Pak Andak.<br />
‘’Huh..!’’ keluh Mak Andak bersungut, meninggalkan laginya yang tecakak di depan kaca, sambil menggerak-gerakan tangannya.<br />
‘’Orang jantan memang macam itu, nak senang sendiri. Ape die tak tengok tangan saye ini cume dua kerat, disuruh pulak kerja banyak-banyak,’’ sungut Mak Andak.<br />
‘’Tengok perempuan-perempuan lainnya, nak dekat lebaran, bukannya masak, justru pergi ke salon, bersolek. Nasib-nasib…!’’ ucap Mak Andak, yang tidak didengar oleh lakinya.<br />
‘’Jangan lupe, masak yang sedap sedikit. Jangan asin betol, nanti orang kena darah tinggi pulak semue habis dari rumah kite,’’ pekik Pak Andak.<br />
‘’Akh.. ! jangan banyak keletah bang, ape yang saye masak makan ajelah nanti,’’ sahut bininya dari belakang.<br />
‘’Tengok tu orang perempuan..! bukan nak mendengar cakap laki, nak mendengar cakap die saje.’’ Pak Andak balik bersungut-sungut terhadap bininya. Tetapi tetap saja berkomat-kamit di depan kaca, persiapan pidato menyambut kedatangan tamu. Karena yang bakalan datang ke open house adalah seluruh orang kampong, termasuk Leman Keling yang menjadi pesaingnya dalam pemilihan calon legislatif dari daerah yang sudah ditentukan oleh KPUD. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangandra.com/2008/10/06/sembelih-ayam-sabong/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Puase, Karena Datang Bulan</title>
		<link>http://bangandra.com/2008/09/23/tak-puase-karena-datang-bulan/</link>
		<comments>http://bangandra.com/2008/09/23/tak-puase-karena-datang-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 06:42:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangandra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangandra.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[CUCU Pak Andak bernama Indra, tergolong budak paling degil di kampongnya. Padahal umurnya baru empat tahun, belum masuk sekolah taman kanak-kanak, tapi kelakuannya nauzubillah..! bengak betul. Diajarin berpuase, selalu saje mencuri makanan di dapur.
‘’Cucu..! engkau tak puase,’’ tanya Pak Andak kepada cucunya yang lagi asyik main dengan temannya, kebetulan seorang budak perempuan.
‘’Tak tok..!’’
‘’Ngape tak puase..?’’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CUCU Pak Andak bernama Indra, tergolong budak paling degil di kampongnya. Padahal umurnya baru empat tahun, belum masuk sekolah taman kanak-kanak, tapi kelakuannya nauzubillah..! bengak betul. Diajarin berpuase, selalu saje mencuri makanan di dapur.<br />
‘’Cucu..! engkau tak puase,’’ tanya Pak Andak kepada cucunya yang lagi asyik main dengan temannya, kebetulan seorang budak perempuan.<br />
‘’Tak tok..!’’<br />
‘’Ngape tak puase..?’’ tanya Pak Andak lagi.<br />
‘’Iin lagi kedatangan bulan!’’ jawabnya.<span id="more-106"></span><br />
‘’Eeh..! ngape pulak engkau kedatangan bulan! Engkau kan budak jantan, masih kecik lagi, manelah mungkin kedatangan bulan’’ kata Pak Andak.  ‘’Yang kedatangan bulan itu orang perempuan yang sudah akhir balikh..’’ jelas Pak Andak.<br />
‘’Betol tok Iin lagi kedatangan bulan. Atok ini tak percayalah,’’ jawabnya, sambil main mobil-mobilan.<br />
‘’Mane dia, coba atok tengok,’’ ungkap Pak Andak, sambil hendak menengok di dalam celane cucunya.<br />
‘’Ini..!’’ ujarnya sambil menunjukkan budak perempuan yang ada di sampingnya.<br />
 ‘’Ini..!’’ tunjuk Pak Andak penasaran.<br />
‘’Iye tok…! Ini namanya bulan. Jadi Iin kedatangan bulan, jadi Iin tak puase-lah,’’ jawabnya. Rupanya, Indra mendengar jawabannya mamaknya yang tidak puase karena kedatangan bulan.<br />
Nah, kalau sudah malam, merengek-rengek minta duit dengan emaknya untuk membeli mercon, kalau tak dapat minta duit, pastilah segala yang ada di depan mata dibantingnya. Ada piring, piring dibanting, ada kursi, kursi direbahkannya. Pokoknya, Indra ini budak paling bengak, degil..! Nah, kalau tak dapat minta dengan emaknya, Indra pandai pulak merajuk  ke rumah datuknya.<br />
‘’Tok..! minta duit..’’ rengek  Indra.<br />
‘’Untuk ape cu..?’’ tanya Pak Andak.<br />
‘’Nak sedekah ke masjid. Kata ustadz bulan puase harus banyak sedekah,’’ rayunya.<br />
‘’Eeh.. iye pulak budak ini. Pandai betol cakapnye. Cucu aku memang pandai betol saol ibadah,’’ kata Pak Andak, langsung merogoh koncek celana dan mengambil  uang Rp2.000,- langsung  menyerahkan kepada cucunya. Setelah menerima duit, macam tupai jantan Indra berlari ke rumah Tong Sheng untuk  membeli mercon. Baru beberapa menit terdengarlah suara mercon menggelegar.<br />
‘’Duar..! Duar..! bunyi mercun meletup-letup di depan rumah Pak Andak.<br />
‘’Astragfirullah..! terperanjat aku dibuatnya,’’ kata Pak Andak sambil mengurut dada.<br />
‘’Oi..! Piah, cobe engkau tengok siapa pulak main mercun di depan rumah kite. Dari tadi asyik nak memekak telinga aku saje,’’ pekik Pak Andak.<br />
‘’Malas saye bang. Paling-paling  cucu kesangan awak tulah. Budak lain tak berani main di depan rumah kite ini,’’ jawab Mak Andak.<br />
‘’Manelah mungkin..! tadi katenya nak pergi ke masjid mau terawih, minta duit dengan aku untuk menyumbang ke masjid,’’ jelas Pak Andak.<br />
‘’Bang..! bang..! macam tak tahu saje perangai cucu awak itu. Budak paling banyak temberang,’’ kata bininya.  Tak puas hati, orangtua ini keluar rumah untuk melihat siapa budak-budak yang main mercun di depan rumahnya.<br />
‘’Betol juga cakap Piah…!’’ gumam Pak Andak, langsung geleng-geleng kepala melihat cucunya yang asyik main mercun. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangandra.com/2008/09/23/tak-puase-karena-datang-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>I’am Sory Seven</title>
		<link>http://bangandra.com/2008/09/23/i%e2%80%99am-sory-seven/</link>
		<comments>http://bangandra.com/2008/09/23/i%e2%80%99am-sory-seven/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 06:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangandra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangandra.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[PAK Andak nak pergi ke Singapura. Dah lama niatnya untuk pergi ke negeri jiran tersebut, untuk melihat suasana ramadhan. Kabar yang  sampai ke telinga Pak Andak, orang muslim di S’pore , seperti di Geylang dan kawasan lainnya, selalu memeriahkan bulan Ramadhan ini dengan menjual berbagai macam tajilan.
Dan satu hari menjelang  lebaran, kue-muih yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PAK Andak nak pergi ke Singapura. Dah lama niatnya untuk pergi ke negeri jiran tersebut, untuk melihat suasana ramadhan. Kabar yang  sampai ke telinga Pak Andak, orang muslim di S’pore , seperti di Geylang dan kawasan lainnya, selalu memeriahkan bulan Ramadhan ini dengan menjual berbagai macam tajilan.<br />
Dan satu hari menjelang  lebaran, kue-muih yang tidak laku lagi dijual, langsung dibagi-bagikan kepada orang, bahkan ada yang terbuang begitu saja. Kabar inilah yang terus merasuk hati Pak Andak, untuk pergi ke S’pore. Sayangnya, Pak Andak tidak berbahasa Inggris. <span id="more-105"></span><br />
‘’Orang cakap, di S’pore harus bise cakap orang putih. Karena, semua percakapan harus menggunakan bahasa Inggris. Sementara saye tak bisa.’’ Gumam Pak Andak pada suatu hari. Akhirnya, dengan berat hati, Pak Andak pun belajar dengan Sabila, anak Anjang Leman yang baru lulus Sekolah Menengah Atas.<br />
‘’Pak Andak..! kalau di S’pore mau belanja harus  cakap orang kulit putih. Orangnya banyak dan  sibuk. Kadang-kadang kite sering telanggar. Jadi, kalau kite menyinggol orang, kite ucapkan I’am sory,’’ kata Sabila mengajari Pak Andak.<br />
Satu minggu lamenya Pak Andak hanya membelajar mengucapkan kata-kata I’am sory. Nah, pada minggu depannya, Pak Andak pun belajar berhitung, mulai dari one, two, hingga ten. Sudah hapal hitungan ke sepuluh, akhirnya Pak Andak berangkat juga ke S’pore.<br />
Maklumlah baru pertama kali mengijakan kaki ke negeri seberang, tentulah Pak Andak banyak tengok kiri-tengok kanan. Lirik sana, lirik sini.<br />
‘’Tak betul juga Sabila tu. Ternyate orang S’pore pandai pon cakap melayu…! Dan lagipulak, dah tiga jam aku di sini tak pernah dilanggar orang,’’ ujar Pak Andak.<br />
Karena celengak-celengok, hingga ke tengah jalan, tibe-tibe seorang bule  menabrak Pak Andak, dan nyaris jatuh. Tetapi, bukannya bule yang minta maaf dulu, tetapi justru Pak Andaklah yang mengucapkan.<br />
‘’Inilah kesempatan aku mengamalkan pelajaran bahasa Inggris. Karena orang bule ini tentu tak pandai cakap Melayu. I’am sory..’’ kata Pak Andak.<br />
Lantas dijawab oleh sang bule.<br />
‘’I’am sory to..’’ jawab bule. Karena mendengar kata-kata ‘to’ Pak Andak pun langsung berucap.<br />
‘’Two… berarti dua.!’’ Gumam Pak Andak, sambil menghitung jari tangannya. Lalu, Pak Andak pun membalasnya.<br />
‘’I’am sory three,’’ ujar Pak Andak lagi, sambil mengangkat tangannya. Hal inilah yang membuat sang bule kebingungan.<br />
‘’What for…?’’ tanya si bule kepada Pak Andak lagi.<br />
‘’For…! Berarti empat…’’ ucap Pak Andak. Lantas, dengan lantangnya Pak Andak mengeluarkan kata-kata.<br />
‘’You sick,’’ kata di bule lagi.<br />
‘’Six..! berarti enam kata pak Andak, langsung saja dia melambaikan tangannya.<br />
‘’I’am sory seven…!’’<br />
Si bule tambah kebingungan apa yang baru didengarnya. Kemudian.<br />
‘’You crazy..!’’ kata si bule langsung pergi meninggalkan Pak Andak yang tersengeng-sengeng.<br />
‘’Crazy…!’’ ucap Pak Andak.<br />
‘’Nah, aku baru belajar berhitung dari one sampai teen, satu sampai sepuluh. Nah kalau crazy berapa lagi ye…’’ Pak Andak bercakap-cakap sendirian.<br />
‘’Baru belajar sampai berhitung satu sampai ke sepuluh, Anjang Leman tibe-tibe nak mengawinkan Sabila, sehingga budak tu tak mengajari aku. Terlalu si Anjang Leman tu,’’ ucapnya.<br />
Dengan melambaikan tangannya Pak Andak pun berucap kepada sang bule yang sudah jauh dari pandangan.<br />
‘’Oke lah ncik bulek.. I’am sory crazy!’’ ucap Pak Andak langsung pergi. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bangandra.com/2008/09/23/i%e2%80%99am-sory-seven/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
